4 UPT BLI bersama KLMB Sukses Gelar Konferensi Internasional

(Surakarta, November 2018)_Terbatasnya anggaran bukan halangan bagi Balai Litbang Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Balitek DAS), Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2P2BPTH), Pusat Litbang Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim (P3SEKPI), serta Balai Litbang Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu (BP2THHBK) untuk menyelenggarakan konferensi internasional. Keempat Unit Pelaksana Teknis (UPT), Badan Litbang dan Inovasi (BLI), Kementerian Lingkungan Hidup dan Keh tanan (KLHK) ini menggandeng Klinik Lingkungan dan Mitigasi Bencana (KLMB), Universitas Gajah Mada (UGM) telah berhasil menyelenggarakan Joint International Conference (JIC).

Kegiatan yang bertemakan Hydro-Meteorological Disaster Mitigation Under Global Change (Mitigasi Bencana Hidrometeorologi akibat Perubahan Iklim (PI) dilaksanakan di Auditorium Merapi dan Gedung KLMB Fakultas Geografi UGM - Yogyakarta pada tanggal 29 November 2018. Kegiatan ini telah diikuti oleh kurang lebih 200 peserta baik dalam maupun luar negeri dari akademik, peneliti, LSM, maupun stakeholders terkait.

"Tema ini dipilih dengan pertimbangan bahwa wilayah Indonesia berada di Cincin Api Pasifik yang berakibat 90% wilayahnya rentan gempa. Indonesia juga berada pada garis khatulistiwa dimana bencana hirometeorologis sering terjadi. Ditambah dengan adanya kebakaran hutan menyebabkan Indonesia semakin rumit untuk dikendalikan,"kata Dr. Syaiful Anwar., Kepala P3SEKPI mewakili Kepala BLI saat membuka acara.

"Selama 20 tahun terakhir, Indonesia telah menjadi berita global utama terkait bencana alam yang sangat menghancurkan. Resiko paling tinggi terjadi apabila kondisi masyarakat berada posisi yang sangat rentan. Untuk itu, kita perlu meningkatkan kapasitas untuk menyelesaikan masalah ini,"tambahnya.

Syaiful menyatakan Kepala BLI memberikan apresiasi besar atas terselenggaranya JIC. Menurutnya konferensi ini penting untuk dilaksanakan karena konferensi ini merupakan wadah pertemuan bagi semua pemangku kepentingan termasuk peneliti, akademisi, sekor swasta, pembuat kebijakan untuk saling bertukar informasi dan ide yang bisa menyelesaikan masalah terkait mitigasi dan antisipasi bencana.

"Diharapkan pada tahun 2045, Indonesia menjadi sebuah negara yang cukup kuat untuk menghadapi bencana. Untuk mewujudkan hal ini, BAPPENAS telah mengalokasikan setidaknya 1% dari alokasi anggaran untuk mitigasi bencan,"kata Syaiful.

Dalam pelaksanaanya, Kegiatan JIC dibagi dalam dua sesi, yaitu pleno dan pararel. Pada sesi pleno menampilkan 6 pemakalah utama, yaitu Dr. Irfan Budi Pramono (Balitek DAS), Dr. Ir. Rina Laksmi Hendrati, MP (B2P2BPTH Yogya), Agus Sukito S.Hut., M.Agr., Ph.D (BP2THHBK Mataram), Dr. Yanto Rochmayanto, S.Hut., M.Si (P3SEKPI), Prof. Dr. Suratman, M.Sc (UGM), dan Prof. Dr. Ludwin Ellenberg (Humbolt University of Berlin-Jerman).

Sedangkan pada sesi pararel menampilkan kurang lebih 30 pemakalah dari berbagai lembaga, yang dibagi menjadi 3 sub tema, yaitu Hydro-meteorological Disaster mitigations using a watershed as a unit analysis & Policy and Governance Addressing Climate Change, Re-vegetation of multipurpose species to mitigate hydro meteorological disaster & Non Timber Forest Products Plant Species Potential for Climate Change Adaptation, dan Community and stakeholders participatory to anticipate hydro-meteorological disaster.

"Acara JIC on Hydro-Meteorological Disaster Mitigation Under Global Change, yang digelar sepanjang hari ini adalah sukses besar. Acara ini memberikan peluang bagi kita dalam mengidentifikasi cara mitigasi bencana hidrometeorologi akibat perubahan iklim,"kata Dr. Syaiful Anwal Kepala P3SEKPI saat menutup acara.

"Jadi, hari ini dalam konferensi ini kita telah belajar satu sama lain, apa yang kita butuhkan dalam mambangun respon dan kesiapsiagaan terhadap bencana, serta masyarakat yang lebih tangguh,"pungkas Syaiful. ***



Berita Terkait: Kembangkan Pengetahuan Masyarakat, untuk Bangun Sistem Deteksi Dini Bencana