Kembangkan Pengetahuan Masyarakat, untuk Bangun Sistem Deteksi Dini Bencana

(Yogyakarta, November 2018)_Masyarakat mempunyai peranan penting dalam proses mitigasi bencana. Umumnya masyarakat mempunyai pengetahuan dan pengalaman sendiri dalam menghadapi bencana yang terjadi. Pengetahuan dan pengalaman masyarakat ini perlu dikelola dan dikembangkan sehingga bisa dijadikan alat untuk membangun suatu sistem peringatan dini dalam menghadapi bencana.

Hal ini diungkapkan oleh Dr. Irfan B. Pramono, Peneliti Balai Litbang Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Balitek DAs) Solo saat menjadi keynote speaker dalam acara Joint International Conference (JIC) on Hydro-Meteorological Disaster Mitigation Under Global Change di Auditorium Merapi Fakultas Geografi, Kamis (29/11).

"Berdasarkan data dari EM-DAT (Centre for Research on the Epidemiology of Disaster Emergency Events Database) tahun 1970 - 2015, memperlihatkan bahwa trend masyarakat yang terkena dampak bencana, terutama hidrologi dan meterologi setiap tahun cenderung meningkat. Peningkatan ini ternyata setara dengan peningkatan kedua bencana tersebut,"kata Irfan.

Peningkatan bencana hidrometeorologi juga terjadi di Indonesia. Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dalam kurun waktu kurang dari 10 tahun, bencana telah meningkat sebanyak 823 buah, yaitu dari 539 buah pada tahun 2005 menjadi 1362 buah pada tahun 2014. Bencana banjir merupakan bencana yang paling banyak jumlahnya atau sekitar 37%.

"Untuk mengurangi risiko bencana dapat dilakukan membangun sistem deteksi dini. Sistem ini akan memberikan informasi kepada masyarakat, pemerintah maupun stakeholders untuk mengembangkan upaya-upaya yang tepat untuk mencegah atau meminimalisir dampak bencana,"kata Irfan.

Lebih lanjut, Irfan menyatakan bahwa sistem deteksi dini terhadap bencana sangat penting di Indonesia, karena Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai potensi bencana besar. Dalam menyusun sistem deteksi dini ini perlu melibatkan partisipasi masyarakat, karena masyarakat yang akan terkena dampak langsung dari bencana. Diharapkan dengan adanya sistem deteksi dini ini dapat mencagah atau meminimalisirkan dampak negatif atau kerugian yang ditanggung oleh masyarakat.

"Namun, sistem deteksi dini untuk mitigasi bencana, terutama banjir dan tanah longsor saat ini belum terintegrasi. Ini menjadi salah satu penyebab kurang berhasilnya proses mitigasi bencana, terutama banjir dan tanah longsor,"kata Irfan.

Dalam kesempatan tersebut, Irfan juga mengungkapkan upaya lain dalam mitigasi bencana hidrometeorologi, terutama banjir dan tanah longsor, yaitu dengan pengelolaan DAS yang terintegrasi, manajemen risiko bencana berbasis masyarakat, serta membangun kesadaran dan partisipasi masyakat. ***



Berita Terkait: 4 UPT BLI bersama KLMB Sukses Gelar KOnferensi Internasional