Peneliti, Kendali Terbesar dalam Meredam Maraknya Plagiarisme

(Surakarta, Januari 2019)_Akhir-akhir ini, dunia akademik dan riset telah dihebohkan dengan maraknya kasus plagiarisme atau plagiat. Bahkan tidak sedikit, peneliti maupun akademisi yang telah mendapat sangki. Peneliti harus semakin hati-hati, karena peneliti merupakan aktor utama yang bisa mengendalikan terjadinya plagiat.

"Plagiarisme menjadi sorotan utama di Badan Litbang. Kita harap kawan-kawan bisa menjaga diri tidak tersangkut plagiarisme. Kendali terbesar adalah kawan-kawan sendiri atau yang bersangkutan,"kata Dr. Nur Sumedi, Kepala Balai Litbang Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Balitek DAS) pada saat memimpin rapat bulanan di kantor Balitek DAS, Senin (14/01).

Disadari bahwa plagiarisme merupakan salah satu bentuk perbuatan seseorang baik didunia akademisi maupun riset yang mengakui karya milik orang lain sebagai karya miliknya, meskipun hanya satu kalimat. Plagiarisme ini telah banyak dijumpai baik dikalangan akademisi baik tingkat S2, S3 di dalam maupun di luar negeri dan juga pada berbagai jurnal tingkat nasional maupun internasional.

Sumedi menyatakan bahwa untuk meredam maraknya plagiarisme, sifat jujur harus melekat pada peneliti. Selain itu, peneliti juga harus bisa melindungi dirinya sendiri atau protected terhadap plagiat. Hal ini bisa dilakukan dengan deteksi antar penulis maupun dengan menggunakan program penulusuran plagiarisme, baik yang berbayar maupun free.

Berdasarkan Gamatechno yang dilansir dari https://tessy.id/news/single?slug=5-tips-menghindari-plagiarisme-dalam-menulis, ada beberapa tips untuk menghindari plagiarisme, yaitu: 1) sertakan sitasi atau memberikan keterangan darimana informasi yang ditulis diperoleh, 2). Mencatat berbagai sumber daftar pustaka sejak awal, 3) Melakukan parafrase atau menggunakan susunan kalimat sendiri, 4). melakukan interpretasi, dan 5). Menggunakan aplikasi antiplagiarisme. Aplikasi ini akan menunjukkan berapa persen tingkat kemiripan yang ditemukan.

"Namun, plagiarisme bisa terjadi karena ketidaktahuan peneliti sendiri kalau perbuatannya termasuk plagiarisme. untuk itu, saya harapkan, kita selalu koordinasi dengan pihak terkait. Bahkan kalau bisa tahun ini, kita undang narasumber untuk sosialisasi plagiarisme,"kata Sumedi.***