Peneliti Balitek DAS Berhasil Redam Laju Erosi di Merapi

(Surakarta, Januari 2019)_Tim Peneliti Balai Litbang Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Balitek DAS) bekerjasama dengan Forum Peduli Lingkungan-Pecinta Alam Lereng Merapi (FPL PALEM) serta Masyarakat Desa Kepuharjo Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah melakukan Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah (RLKT) dengan teknik vegetatif dengan memanfaatkan rumput penghalang (grass barrier) dan kombinasi pupuk kandang. Hasilnya sangat jenius. Kombinasi ini telah berhasil menekan laju erosi tanah akibat bencana Gunung Merapi Tahun 2010 sebesar 88%.

"Upaya pemulihan lahan yang rusak akibat erupsi Gunung Merapi dapat dilakukan dengan teknik sipil/ mekanik, vegetatif, maupun kimia. Rumput penghalang atau grass barrier dapat digunakan sebagai salah satu metode rehabilitasi lahan secara vegetatif, terutama untuk mencegah timbulnya erosi yang lebih lanjut pada wilayah tersebut,"kata Ir. Beny Harjadi, M.Sc., seperti dikutip dalam artikelnya yang dimuat dalam Jurnal Agritech Vol 38 (1) 2018.

Lebih lanjut, Beny menerangkan bahwa Gamal (Gliricidia sepium sp.) dan rumput Akar wangi (Vetiveria zizaniodes sp) merupakan jenis rumput penghalamalng yang sangat efektif dimanfaatkan sebagai salah satu metode konservasi secara vegetatif pasca erupsi Merapi. Metode tersebut, terbukti mampu mengurangi tingkat erosi. Hal ini terlihat dari hasil pada plot bekas erupsi Merapi tahun 2010 yang belum dikelola dengan baik, akan menunjukkan nilai erosi yang lebih tinggi dibandingkan dengan lahan yang sudah dikelola dengan baik memalui penanaman grass barrier. Bahkan metode ini mampu mengurangi tingkat erosi oleh angin sebesar 88%. .

"Metode secara vegetatif ini, akan lebih optimal dengan pemberian pupuk kandang untuk perbaikan agregasi tanah. Dengan semakin mantapnya agregasi tanah yang ditunjukkan dengan struktur tanah yang semakin matang dan tidak mudah lepas, tanah tidak mudah dipindahkan oleh pengaruh erosi angin,"terangnya.

Diketahui bahwa bencana Gunung Merapi pada Tahun 2010 telah memuntahkan 130 juta m3 material gunung api. Kondisi ini menimbulkan kerusakan berat pada lahan sekitar Gunung Merapi yang berdampak pada kesuburan lahan. Selain itu, pasca erupsi Gunung Merapi, adanya pengaruh angin menyebabkan adanya alur aliran/ pengikisan/ erosi tanah permukaan yang menyebabkan berpindahnya partikel tanah dari lereng atas ke lereng bawah.

Beny berharap dengan rehabilitasi lahan dengan kombinasi rumput penghalang atau teknik vegetatif dengan pupuk kandang atau teknik mekanik dapat diaplikasi lahan Merapi atau wilayah lainnya pasca erupsi.***

Sumber artikel:

Efektivitas Grass Barrier (Rumput Penghalang) terhadap Pengendalian Erosi Angin di Merapi pada Jurnal Agritech Vol 38 (1) 2018.

Keberhasilan Proses Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah ini dapat dilihat di youtube dengan Judul Rehabilitasi Merapi oleh Tim BPTKPDAS