Ekosistem Hutan, Tingkatkan Pendapatan Petani

(Surakarta, Juni 2019)_Ekosistem hutan dalam suatu Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) memegang peranan penting dalam menjaga kualitas dan kuantitas air bagi wilayah sekitarnya, dan berpengaruh pada pendapatan petani. Hal tersebut dikemukakan oleh Ir. Purwanto, M.Si, Peneliti Balitek DAS dalam artikelnya yang dimuat pada Jurnal Ilmu Lingkungan Volume 17 Issue 1 (2019) : 23-31.

"Usaha tani padi bila menggunakan air irigasi dari hutan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding hasil air non hutan. Nilai ekonomi air irigasi dari Sub DAS yang berhutan sebesar Rp. 1.270,-/m3. Sedangkan yang dari non hutan sebesar Rp. 373,5,-/m3. Hal diakibatkan oleh kandungan hara, hasil air dari hutan lebih baik untuk irigasi disbanding dengan air yang berasal dari lading dan pemukinan,"kata Purwanto.

Purwanto menjelaskan bahwa perbedaan nilai ekonomi air irigasi tersebut diperoleh dari asumsi harga gabah kering giling jenis Logawi sebesar Rp. 4.300,- dan hasil analisis dengan menggunakan persamaan Cobb - Douglas. Persamaan ini menjelaskan bahwa Pendapatan usaha tani diperoleh dari luas usaha tani, pengeluaran untuk bibit, pengeluaran untuk pupuk, pengeluaran untuk insektisa, pengeluaran untuk tenaga kerja serta kebutuhan air irigasi. Untuk kebutuhan air irigasi diperoleh dengan pengukuran debit air yang masuk ke bidang sawah yang dilakukan seminggu sekali.

Purwanto juga menjelaskan bahwa nilai ekonomi air irigasi pada ekosistem hutan nilainya akan lebih tinggi karena air dari hutan masih tersedia walaupun musim kemarau. Untuk luasan sawah 1 ha, pada musim kemarau mengalami defisit air sebesar 613,6 m3/ha sehingga nilai ekonomi air irigasi pada hutan sebesar 613,6 m3/ha x Rp. 1.270,-/m3 = Rp. 7.792.720,-/ha dan bila pada non hutan sebesar 613,6 m3/ha x Rp. 373,5,-/m3 = Rp. 2.291.796,-/ha

"Pada masyarakat di Sub DAS berhutan, nilai ekonomi tersebut diperoleh secara gratis karena selama ini penggunaan air irigasi tidak dikenai biaya. Hal ini perlu dijelaskan kepada petani bahwa air irigasi yang digunakan mereka memiliki nilai ekonomi yang tinggi untuk proses produksi usaha taninya sehingga agar mereka dapat menghemat penggunaan air sesuai dengan kebutuhan tanaman sesuai dengan umurnya,"kata Purwanto

Lebih lanjut, Purwanto juga menjelaskan bahwa air irigasi pada Sub DAS yang hulunya masih mempunyai tutupan hutan, mempunyai kualitas air yang lebih bagus. Hal ini disebabkan karena SUb DAS yang berhutan lebih mampu mengendalikan bahan pencemar sehingga hasil air dari hutan terutama hutan lindung yang masuk ke sungai tidak tercemar.

Pada akhir artikelnya, Purwanto menyarankan bahwa ekosistem hutan di suatu Sub DAS perlu dilestarikan bersama pengguna air untuk menjaga kualitas, kuantitas, maupun nilai ekonomi hasil air. ***

Sumber artikel:

Komparasi Nilai Ekonomi Air Irigasi dari Daerah Aliran Sungai Berhutan dan Tidak Berhutan yang dapat di download di http://dassolo.litbang.menlhk.go.id/penelitian/publikasi/tahun/2019/unduh/955/Komparasi-Nilai-Ekonomi-Air-Irigasi-dari-Daerah-Aliran-Sungai-Berhutan-dan-Tidak-Berhutan