Balitek DAS Diseminasikan Iptek yang Adaptif Bagi Masyarakat.

(Karanganyar, Juni 2019)_Balai Litbang Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Balitek DAS) berusaha keras untuk menghasilkan iptek yang bermanfaat dan adaptif bagi masyarakat. Salah satunya adalah pengendalian erosi jurang kecil dengan bahan yang sederhana dan mudah diperoleh masyarakat, yaitu bambu. Diharapkan masyarakat mau mengimplementasikan dan mengadopsi iptek tersebut.

Hal tersebut disampaikan oleh Ir. Gunawan Hadi Rahmanto, M.Si., Kepala Balitek DAS saat memberikan sambutan dan membuka acara Pelatihan dan Pengenalan Bangunan Kontan Pengendali Jurang di Desa Wonorejo, Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar pada hari Kamis (20/6).

"Erosi jurang menjadi masalah bagi masyarakat karena kurangnya informasi dan pengetahuan masyarakat untuk mengendalikan erosi jurang. Adanya pelatihan ini diharapkan bisa memberikan informasi, edukasi, dan bekal kepada masyarakat sehingga masyarakat bisa menangani erosi jurang secara swadaya,"harap Gunawan.

Gunawan menyakinkan kepada masyarakat bahwa Iptek yang dikenalkan kepada masyarakat pada kegiatan ini adalah iptek yang adaptif bagi masyarakat karena menggunakan bahan yang mudah diperoleh masyarakat, yaitu bambu. Gunawan menyadari bahwa selama ini masyarakat berpikir untuk mengendalikan erosi jurang memerlukan biaya yang mahal sehingga terjadinya pembiaran yang berpotensi terjadinya jurang besar dan merugikan masyarakat sekitar.

"kami sudah menemukan teknologi pengendalian erosi jurang yang murah. Sekarang tinggal implementasinya. Saya harap teknologi ini nanti dapat diadopsi oleh para peserta semua,"kata Gunawan.

Kegiatan pelatihan dan pengenalan bangunan kontan pengendali jurang dilaksanakan dalam satu hari dan diikuti oleh masyarakat pada Sub DAS Naruan di Desa Wonorejo dan Wonokeling Kabupaten Karanganyar dan Desa Bubakan Kabupaten Wonogiri. Materi dalam kegiatan tersebut diberikan dalam bentuk teori dan praktek yang diberikan oleh Tim Peneliti dan teknisi Balitek DAS yang tergabung dalam proyek APFnet.

kegiatan ini dilakukan karena di daerah hulu DAs serta batas antar kepemilikan lahan di wilayah Kabuaten Karanganyara dan Wonogiri berpotensi besar terjadinya jurang. Apabila adanya jurang tersebut tidak ditangani sedini mungkin akan mengakibatkan masalah ekologi yang secara tidak langsung akan menyebabkan kerugian masyarakat, seperti adanya sedimentasi, pendangkalan waduk, kekurang air pada musim kemarau, atau banjir pada musim hujan. ***DY.