Publikasi Penelitian

Kajian Sengon (Paraserianthes falcataria) Sebagai Pohon Bernilai Ekonomi dan Lingkungan


Abstrak (Indonesia):
Hutan rakyat sengon hampir menutupi sebagian wilayah Kabupaten Wonosobo dan Banyumas dan memainkan peran yang penting dalam perekonomian masyarakat serta di dalam memelihara lingkungan global, seperti pencegahan banjir, pengendalian proses pemadang-pasiran dan penyerapan serta fiksasi CO2. Hutan alam telah semakin berkurang, yang disebabkan oleh kegiatan tebas dan bakar, illegal logging, penebangan pohon secara berlebihan serta konversi dari tanah-tanah hutan menjadi tanah-tanah pertanian. Hutan di satu sisi sebagai penjerap emisi karbon di sisi lain juga dapat menghasilkan/menyumbang emisi karbon di udara. Dengan makin berkurangnya hutan alam dari tahun ke tahun, akan menyebabkan berkurangnya pasokan bahan baku kayu bagi industri perkayuan yang ada selain itu juga dapat meningkatkan emisi karbon di udara apabila pembakaran hutan selalu dilakukan dalam aktivitas manusia baik di dalam ataupun di luar kawasan hutan. Berkurangnya luasan hutan juga dapat menyebabkan semakin menurunnya kualitas lingkungan hidup yang disebabkan hilangnya vegetasi pepohonan sebagai penjerap emisi karbon udara. Permasalahan di atas sebenarnya dapat di atasi apabila upaya penanaman pohon-pohonan dalam gerakan reboisasi hutan dan lahan, hutan tanaman industri dan hutan rakyat dapat berhasil dengan baik sehingga dapat memberikan konstribusi baik terhadap perekonomian maupun lingkungan. Memahami situasi demikian, BPK Solo melakukan penelitian untuk mengumpulkan dan menganalisa berbagai data guna mengetahui pertumbuhan sengon serta mengkuantifikasikan kandungan karbon dalam biomasa tegakan sengon (Paraserianthes falcataria) sebagai salah satu jenis unggulan dalam pembangunan hutan tanaman industri dan hutan rakyat. Dalam penelitian ini, lokasi yang dipilih adalah Kabupaten Wonosobo dan Banyumas. Penelitian yang dilakukan merupakan pengamatan (observasi) terhadap kondisi yang ada dan tidak melakukan perlakuan. Metode yang digunakan untuk mengetahui rosot karbon dalam tanaman adalah dengan pendekatan IPCC Guidelines (1995) dalam Retnowati (1998). Pertumbuhan sengon didekati dengan melakukan pengukuran diameter dan tinggi tanaman, yang selanjutnya dianalisis ke dalam suatu persamaan matematika. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persamaan hubungan keeratan (determinasi) antara umur tegakan/tanaman dengan diameter, volume dengan diameter, berat kering total biomassa dengan diameter dan kandungan karbon dengan diameter, memberikan nilai koefisien determinasi yang cukup tinggi sampai tinggi, ini berarti, persamaan-persamaan tersebut dapat digunakan untuk mengestimasi kandungan karbon tegakan/tanaman jati.
Abstract (English) :
Community forests has almost cover the land area of Banyumas and Wonosobo Sub-Province and plays an important role in community economical and maintaining global environment, such as controlling flood, desertification process, and sequestration and fixation of CO2. The existing forest was decreasing due to slash and burn activities, over forest felling for fuel wood and commercial timber, conversion of forest land to other uses. Our world is now opening to adversity of global warming. It is believed that most of CO2 and other green house gases were release from economics activities formed a layer surrounding world atmosphere, stopped solar energy, and caused a raise average temperature. Climate change caused by global warming has overcome to more intent natural disaster in some parts of the world as before. Concerning this situation, BPK-Solo have conducted a study to collect and analyze some data to know the growth and yield and quantify the fixation of carbon content in sengon (Paraserianthes falcataria) stands biomass as one favorite species in developing industrial plantation forest and community forest. The study was located at sengon community forest in Banyumas and Wonosobo Sub Province Central Java. The research deals with the observation of the current condition and does not employ a treatment. The research methodology used to quantify carbon sequestration in the plant biomass was using IPCC approximation guidelines (in Retnowati, 1998), and for the growth yield are by measuring the high and diameter tree, and further by mathematical equation analysis.The results of the study showed that the correlation equations between stand/plant age and diameter, total dry weight biomass and diameter, also carbon content and diameter give high value of determination coefficient. It means that those equations could be use to estimate the carbon content of teak stand/plant.
Media Publikasi :
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman
Penulis :
Heru Dwi Riyanto, Ir., Susi Abdiyani, S.Hut.,M.Sc., M.Env.Mgmt, Ragil Bambang WMP
Ukuran Berkas :
66.4 KB

Sebelum mengunduh file, silahkan mengisi formulir dibawah ini terlebih dahulu untuk keperluan dokumentasi. File tidak bisa diunduh dengan menggunakan Akselerator (IDM, FDM, DAP, dll). File hanya bisa diunduh dengan pengunduh bawaan dari browser. Apabila tidak bisa mengunduh silahkan email ke bpt.kpdas@gmail.com .









« kembali

Arsip Penelitian