Publikasi Penelitian

Rehabilitasi Kawasan Konservasi Taman Hutan Raya denganTeknik Hydroseeding


Abstrak (Indonesia):
Hydroseeding adalah proses penanaman dengan menggunakan adonan antara biji dan mulsa. Adonan tersebut diangkut dalam tanki, truk atau trailer dan disemprotkan di atas lahan yang telah dipersiapkan dalam tapak yang seragam. Hydroseeding adalah alternatif dari proses tradisional penyebaran dry seed. Mendukung percepatan berkecambah benih/biji dan dapat mengurangi erosi. Mulsa dalam campuran hydroseed membantu menjaga tingkat kelembaban benih/bibit. Adonan hydroseed sering memiliki tambahan bahan termasuk pupuk, agen perekat (tackifier agents), pewarna dan materi tambahan lainnya. Teknik Hydroseeding untuk jenis tanaman hutan masih belum banyak dilakukan, hal ini terkendala terutama oleh beragamnya ukuran benih/biji tanaman hutan, dari sangat besar, sampai sangat halus, juga adanya dua sifat benih tanaman hutan yang dapat mempengaruhi keberhasilan proses penanaman dengan teknik hydroseeding tersebut. Masih terbatasnya informasi mengenai penanaman dengan teknik hydroseeding berserta materi/formula hydroseeder untuk jenis tanaman hutan, maka perlu dilakukan penelitian mengenai hal tersebut, sebelum teknik ini dikembangkan/diaplikasikan secara luas. Penelitian ini adalah untuk mengkaji seberapa besar teknik hydroseeding berpengaruh terhadap perkecambahan dan pertumbuhan benih/biji jenis tanaman kehutanan guna menghasilkan rekomendasi yang dapat digunakan untuk implementasi rehabilitasi hutan dan lahan di lapangan. Penelitian bertujuan untuk mengkaji seberapa besar teknik hydroseeding berpengaruh terhadap perkecambahan dan pertumbuhan benih/biji jenis tanaman kehutanan guna menghasilkan rekomendasi yang dapat digunakan untuk implementasi rehabilitasi hutan dan lahan di lapangan. Penelitian ini dilaksanakan di Taman Hutan Raya (Tahura) Ngargoyoso, yang secara administrasi pemerintahan berada di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso . Penelitian ini menempati areal seluas ? 3 hektar yang terbagi ke dalam petak/plot pengamatan dengan luas petak ? 0,1 hektar sebanyak 20 plot. Perekat (tackifier), pupuk NPK, insektisida. Dengan benih yang disemprotkan Agathis (Agathis lorantifolia), Lemo (Litsea cubeba), Suren (Toona sureni), Kaliandra merah dan putih (Calyandra calothyrsus). Perlakuan dibedakan atas perekat dan non perkat; full coverage dan strip coverage. Hasil inventarisasi permudaan, benih yang tumbuh dibanding yang disebarkan dalam satuan satu meter persegi untuk benih dorman panjang adalah 7 %, sedang dorman pendek 14 %.
Abstract (English) :
-
Media Publikasi :
Prosiding Seminar Nasional Purwokerto
Penulis :
Heru Dwi Riyanto, Ir., Susi Abdiyani, S.Hut.,M.Sc., M.Env.Mgmt
Ukuran Berkas :
337.7 KB

Sebelum mengunduh file, silahkan mengisi formulir dibawah ini terlebih dahulu untuk keperluan dokumentasi. File tidak bisa diunduh dengan menggunakan Akselerator (IDM, FDM, DAP, dll). File hanya bisa diunduh dengan pengunduh bawaan dari browser. Apabila tidak bisa mengunduh silahkan email ke bpt.kpdas@gmail.com .









« kembali

Arsip Penelitian