Publikasi Penelitian

Hutan sebagai Pengendali (Regulator) Puncak Banjir pada DAS


Abstrak (Indonesia):
Hujan yang jatuh pada suatu daerah tangkapan yang bervegetasi akan menyebabkan tertahannya sebagian air hujan di daun-daun yang disebut sebagai proses intersepsi. Apabila hujan lebih kecil dari laju intersepsi, maka air tidak akan mencapai permukaan tanah. Sebaliknya air yang mencapai permukaan tanah, akan mengalami proses infiltrasi. Laju infiltrasi akan menurun secara eksponensial, sejalan bertambahnya kelengasan tanah. Curah hujan yang melebihi laju infiltrasi akan menimbulkan akumulasi air dipermukaan tampungan depresi dan bila air melebihi kapasitas tampung air depresi, maka akan terjadi aliran permukaan (surface runoff). Fenomena alam dari curah hujan menjadi aliran yang berasal dari komponen total aliran yang membentuk hidrograph aliran merupakan penyederhanaan dari kejadian (siklus) hidrologi. Hujan badai yang melebihi tampungan intersepsi maksimum, infiltrasi konstan dan kapasitas tampungan depresi akan menghasilkan puncak hidrograph banjir yang tinggi. Hidrograph banjir dibentuk oleh curah hujan efektif, bentuk hidrograph tersebut merupakan karakteristik basin daerah aliran sungai (DAS) Karakteristik basin dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tanaman penutup lahan (hutan), tekstur/jenis tanah, besar kemiringan lereng dan besarnya curah hujan efektif.Memperbesar intersepsi, infitrasi dan kapasitas tampungan depresi akan dapat mengurangi curah hujan efektif, sehingga debit banjir dan puncak banjir akan menurun. Menanam tanaman (vegetasi) yang rapat pada bagian hulu daerah aliran sungai (DAS), dapat memperbesar intersepsi dan infiltrasi, dapat mengurangi debit dan puncak hidrograph. banjir. Membangun (membuat tampungan depresi dan infiltrasi) seperti waduk-waduk kecil untuk menampung aliran permukaan yang berasal dari curah hujan yang jatuh di daerah aliran sungai, akan dapat menurunkan puncak banjir. Guna mendekati fenomena aliran banjir yang dipengaruhi oleh sifat DAS yang heterogen dengan karakteristik basin dalam fungsi ruang dan waktu, maka model distri- busi diharapkan dapat memberikan analisis hidrograpf dan simulasi yang lebih teliti/ akurat. Analisa dan evaluasi puncak banjir dapat dilakukan atau menggunakan model hidrologi distribusi. Pada saat ini ada beberapa model Hidrologi distribusi yaitu : Model TOP, SHE, ANSWER, TOPOG, AGNPS dan CREAMS. Pada makalah penulis menggunakan model distribusi ANSWERS, dengan melakukan simulasi dalam berbagai keadaan kondisi tanaman penutup lahan (vegetasi) ataupun bangunan konservasi tanah dan air. Dengan menggunakan model ANSWERS ini dilakukan analisa dan perhitungan (simulasi) dalam beberapa alternatif. Dari hasil analisa/perhitungan didapat beberapa puncak banjir, dan dapat dipilih/ditentukan sebagai alternatif untuk pengendalian banjir yang optimal dan tepat serta menguntungkan bagi daerah tersebut (dapat dijadikan pilihan dalam perencanaan) infrastruktur bangunan pencegah banjir.
Abstract (English) :
-
Media Publikasi :
Prosiding Workshop 2009
Penulis :
Syofyan Dt.Majo Kayo , Mohamad Arief Ilyas, Dedih Setiadi, Erna Satriana
Ukuran Berkas :
326.4 KB

Sebelum mengunduh file, silahkan mengisi formulir dibawah ini terlebih dahulu untuk keperluan dokumentasi. File tidak bisa diunduh dengan menggunakan Akselerator (IDM, FDM, DAP, dll). File hanya bisa diunduh dengan pengunduh bawaan dari browser. Apabila tidak bisa mengunduh silahkan email ke bpt.kpdas@gmail.com .









« kembali

Arsip Penelitian