Publikasi Penelitian

Nilai Dan Distribusi Ekonomi Pengelolaan Kawasan Lindung Sebagai Pengatur Tata Air: Kasus Di Sub DAS Brantas Hulu


Abstrak (Indonesia):
Salah satu peran dan fungsi kawasan lindung seperti hutan lindung adalah pengatur tata air atau menjaga kualitas dan kesinambungan ketersediaan air sehingga ada tuntutan agar hutan perlu dikelola dengan baik. Sementara permasalahan yang berkembang adalah banyaknya pemangku kepentingan yang terlibat dalam pengelolaan hutan, termasuk tata air. Penelitian yang dilakukan di Sub DAS Brantas Hulu ini menunjukkan bahwa menurunnya luas tutupan hutan mengakibatkan meningkatnya aliran permukaan dan menurunkan aliran dasar (base flow). Hal ini berimplikasi terhadap kemampuan Sub DAS dalam menyimpan dan menyerap serta mendistribusikan air hujan yang jatuh sehingga menyebabkan terjadinya banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau. Secara ekonomi, dengan metode biaya penuh, pengadaan air yang komersil di Sub DAS Brantas adalah sebesar Rp316,2 milyar/tahun. Dari total biaya tersebut diperoleh tarif normal untuk Biaya Jasa Pengelolaan Sumber Daya Air bagi pemanfaatan PLTA, PDAM dan industri di DAS Brantas seharusnya masing-masing sebesar Rp 116,7/kWh, Rp 217,79/m3 dan Rp 607,34/m3. Tarif yang berlaku saat ini adalah masing-masing adalah Rp 38,21/kWh, Rp 55/m3 dan Rp 110/m3. Sehingga selisih dari nilai tersebut merupakan nilai lingkungan yang perlu dikembalikan ke kawasan hutan. Sedangkan nilai non komersial manfaat air pertanian (didekati dari kesediaan membayar petani) sebesar Rp 20,8 juta/petani/tahun atau nilai ekonomi total sebesar Rp5,9 trilyun/tahun (untuk seluruh DAS). Nilai kesediaan membayar atas manfaat air rumah tangga sebesar Rp 641.783/orang/tahun atau nilai ekonomi total manfaat air untuk kebutuhan rumah tangga sebesar Rp14,4 milyar/tahun. Besarnya kompensasi yang selayaknya diterima oleh para pengelola kawasan atas jasa air non komersil yang digunakan petani dan rumah tangga sebesar Rp 4 067 525 / thn untuk para pengusaha pertanian di Tahura Suryo , Rp 55 008,80 /tahun untuk rumah tangga di TNBTS dan sebesar Rp 679 510,40 /thn untuk rumah tangga di sekitar kawasan Perum Perhutani Sedangkan besarnya biaya lingkungan / kompensasi atas pemanfaatan air komersil yang seharusnya diterima oleh masing-masing pengelola kawasan adalah Tahura Suryo sebesar Rp 8 691 085 /ha, TNBTS sebesar Rp 2 052 400 / ha dan Perum Perhutani sebesar Rp 978 349./ha.
Abstract (English) :
-
Media Publikasi :
Prosiding Workshop 2009
Penulis :
Kirsfianti L. Ginoga, Sylviani dan Nurfatriani
Ukuran Berkas :
339.5 KB

Sebelum mengunduh file, silahkan mengisi formulir dibawah ini terlebih dahulu untuk keperluan dokumentasi. File tidak bisa diunduh dengan menggunakan Akselerator (IDM, FDM, DAP, dll). File hanya bisa diunduh dengan pengunduh bawaan dari browser. Apabila tidak bisa mengunduh silahkan email ke bpt.kpdas@gmail.com .









« kembali

Arsip Penelitian