Publikasi Penelitian

Pengelolaan Hutan Lestari Sebagai Basis Peningkatan Daya Dukung Daerah Aliran Sungai


Abstrak (Indonesia):
Penyelenggaraan kehutanan lestari pada aspek lingkungan abiotik (non hayati) diamanatkan UU No. 41 Tahun 1999 yakni bahwa tujuan penyelenggaraan kehutanan adalah untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat yang berkeadilan dan berkelanjutan dengan meningkatkan daya dukung Daerah Aliran Sungai (DAS). Hutan memiliki kekhasan ekosistem tertentu sehingga hutan ditetapkan berdasarkan fungsi pokoknya yakni hutan konservasi, lindung, dan produksi dengan sistem pengelolaan sesuai dengan fungsinya. Melalui daur air (hidrologi) dalam unit DAS, peran hutan sebagai pelindung efektif sumberdaya tanah serta regulator tata air dapat dievaluasi untuk mengukur kelestarian penyelenggaraan kehutanan. Untuk mengelola hutan produksi, hutan alam dan hutan tanaman, pemerintah telah memberikan kriteria dan indikator yang harus dipenuhi oleh para penyelenggara hutan produksi (mandatory) melalui Keputusan Menteri Kehutanan. Disamping itu banyak institusi yang juga mengeluarkan pedoman untuk sertfikasi pengelolaan hutan alam dan hutan tanaman produksi lestari, bersifat pilihan (voluntary), seperti dari LEI, ITTO, dan CIFOR. Semua pedoman pada prinsipnya menekankan tiga aspek kelestarian utama dalam pengelolaan hutan produksi lestari yakni aspek produksi (ekonomi), lingkungan, dan sosial budaya. Unsur dukungan kelestarian DAS dicerminkan dari parameter penyusun kelestarian lingkungan non hayati yakni kelestarian tanah dan tata air. Fungsi hutan sebagai pelindung tanah akan berubah dengan perubahan ekosistem tanaman hutan, seperti penebangan yang diikuti pembukaan lahan, kebakaran, dan tanah longsor. Kebakaran hutan merupakan gangguan yang besar terhadap ekosistem hutan. Meskipun tanaman pokok hutan tidak mati oleh api tetapi serasah dan tumbuhan bawah yang habis terbakar mengakibatkan tanah terbuka sehingga rentan terhadap erosi dan banjir. Sebagai regulator tata air, hutan dalam satuan wilayah DAS merupakan sumber cadangan dan pasokan air yang sangat dibutuhkan untuk irigasi, pertanian, industri, dan konsumsi rumah tangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hutan tidak meningkatkan hasil air (pasokan) tetapi justru menurunkan hasil air karena evapotranspirasi yang tinggi.Walaupun hasil air berkurang tetapi peran hutan yang lebih besar perlu dipertimbangkan dalam membangun hutan seperti jenis tanaman, kualitas air, pengendalian banjir, kemantapan pasokan air, nilai ekonomi air, dan jasa lingkungan sebagai kompensasi pengurangan hasil air tersebut. Hasil air (jumlah, mutu, dan kontinyuitas) dari kawasan hutan tidak hanya tergantung vegetasi hutannya tetapi sangat dipengaruhi oleh faktor alam lainnya, seperti jenis batuan (geologi), tanah, lereng, dan iklim. DAS merupakan integrator yang obyektif dan rasional dalam membangun jalinan instititusional antar penyelenggara lahan, baik hutan dan non hutan, secara terpadu interaktif-simbiotik.
Abstract (English) :
-
Media Publikasi :
Prosiding Workshop 2009
Penulis :
Paimin
Ukuran Berkas :
191.6 KB

Sebelum mengunduh file, silahkan mengisi formulir dibawah ini terlebih dahulu untuk keperluan dokumentasi. File tidak bisa diunduh dengan menggunakan Akselerator (IDM, FDM, DAP, dll). File hanya bisa diunduh dengan pengunduh bawaan dari browser. Apabila tidak bisa mengunduh silahkan email ke bpt.kpdas@gmail.com .









« kembali

Arsip Penelitian