Publikasi Penelitian

Penerapan Metode Rational Untuk Estimasi Debit Puncak Pada Beberapa Luas Sub DAS


Abstrak (Indonesia):
Salah satu indikator kesehatan DAS adalah debit puncak. Debit puncak yang tinggi menggambarkan tingkat kerusakan suatu DAS. Beberapa DAS tidak mempunyai stasiun pengukur hidrologi sehingga data puncak banjir tidak tersedia. Model yang paling sesuai untuk penaksiran debit puncak sebaiknya diujicobakan di beberapa DAS dengan kondisi biofisk yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan luas DAS yang paling sesuai dalam penerapan metode Rational.. Metode Rational adalah metode penaksiran debit puncak. Metode ini dipilih karena paling sederhana dan paling banyak digunakan di beberapa tempat. Namun demikian, metode ini mensyaratkan beberapa kondisi. Jika syarat nya tidak terpenuhi maka hasilnya menjadi kurang akurat. Metode ini mengasumsikan bahwa intensitas hujan jatuh merata dalam seluruh DAS dan waktu mencapai puncak sama dengan waktu konsentrasi. Metode ini telah diterapkan di Sub DAS Tapan, Ngunut I, dan Wuryantoro dengan luas masing-masing Sub DAS 145 ha, 596 ha, dan 1.792 ha. Hasilnya menunjukkan bahwa dibandingkan dengan hasil pengukuran, debit maksimum hasil prediksi mempunyai penyimpangan sebesar 185%, -4%, dan 645% masing-masing untuk sub DAS Tapan, Ngunut I, dan Wuryantoro. Tingginya deviasi ini disebabkan oleh hujan yang tidak merata dalam satu DAS. Meskipun sub DAS Ngunut I mempunyai luas 596 ha, namun hujannya dapat merata karena daerahnya lebih datar dibandingkan dengan sub DAS Tapan dan Wuryantoro.
Abstract (English) :
One of watershed health indicators is peak flow. High peak flow reflects watershed degradation. Some watersheds do not hav e hydrologic station; therefore, the peak discharge data are not av ailable. Appropriate model for estimating peak run-off should be tried in some watersheds with different area. The aim of the research is to determine the most suitable area for applying peak run-off estimation. Rational method is applied for estimating peak run-off. The method is chosen due to simplicity and the most popular method in peak run-off estimation. Howev er, the method required som e condition, if the requirements do not match; the result will be less accurate. The method assum es that a rainfall of uniform intensity cov ers the whole watershed and tim e to peak is same as time of concentration. The method was applied in Tapan, Ngunut I, and Wuryantoro sub watersheds with area of 145 ha, 596 ha, and 1.792 ha, respectiv ely. The results show that deviation with direct m easurem ent was 185%, -4%, and 615% for Tapan, Ngunut I, and Wuryantoro sub watersheds, respectively. The high dev iation due to rainfall intensity is not uniform cov er the whole watershed. Although Ngunut I sub watershed has an area of 596 ha, the rainfall intensity was ev en due to flatter area than Tapan and Wuryantoro sub watersheds. Therefore, The most suitable area for estimating the peak discharge is Ngunut I sub watershed.
Media Publikasi :
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Penulis :
Irfan Budi Pramono, Dr., Drs., M.Sc., Nining Wahyuningrum, Ir., M.Sc., Agus Wuryanta, Drs., M.Sc.
Ukuran Berkas :
965.5 KB

Sebelum mengunduh file, silahkan mengisi formulir dibawah ini terlebih dahulu untuk keperluan dokumentasi. File tidak bisa diunduh dengan menggunakan Akselerator (IDM, FDM, DAP, dll). File hanya bisa diunduh dengan pengunduh bawaan dari browser. Apabila tidak bisa mengunduh silahkan email ke bpt.kpdas@gmail.com .









« kembali

Arsip Penelitian