Publikasi Penelitian

Kerentanan Banjir di DAS Solo


Abstrak (Indonesia):
DAS Solo merupakan salah satu DAS yang sering mengalami kebanjiran. Hampir tiap tahun beberapa daerah mengalami kebanjiran. Daerah yang kebanjiran tidak hanya di wilayah hilir, namun kebanjiran juga terjadi di daerah hulu dan tengah DAS Solo. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi daerah yang potensial rawan banjir di DAS Solo. Metode yang digunakan adalah analisis tipologi DAS yaitu analisis kerentanan lahan, kerentanan pasokan air banjir, dan kerentanan daerah kebanjiran. Kerentanan lahan diperoleh dari interaksi antara bentuk lahan dan penutupan lahan. Kerentanan pasokan air banjir diperoleh dari interaksi antara kerentanan lahan dan data hujan harian maksimum. Kerentanan daerah kebanjiran diperoleh dari bentuk lahan. Skor kerentanan berkisar dari < 1,7 (tidak rentan) sampai 4,3 (sangat rentan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerentanan daerah rawan banjir tertinggi di Sub DAS Solo Hilir (3,12), disusul Sub DAS Solo Hulu (2,63), dan Sub DAS Kali Madiun (2,3). Selain mempunyai skor kerawanan banjir yang tinggi, Sub DAS Solo Hilir ini juga mempunyai prosentase luas daerah kebanjiran yang paling besar (33,81 % dari luas Sub DAS). Hal ini disebabkan oleh luasnya bentuk lahan alluvial di Sub DAS Solo Hilir yang mencapai 31,59 % dari luas Sub DAS. Dari segi pasokan air banjir semua Sub DAS di DAS Solo mempunyai skor sangat rentan dengan nilai 4. Kerentanan pasokan air yang tinggi ini disebabkan selain curah hujan harian maksimum yang tinggi (>130 mm/hari) juga karena skor kerentanan lahan yang cukup besar khususnya Sub DAS Solo Hulu (3,63) dan Kali Madiun (3,67). Daerah yang mempunyai kerentanan pasokan air yang sangat tinggi terjadi di Kabupaten Karanganyar, Magetan, dan Boyolali. Daerah yang mempunyai kerentanan daerah kebanjiran yang sangat tinggi terjadi di Kabupaten Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Blora, dan Sragen. Khusus untuk Kabupaten Bojonegoro dan Lamongan selain mempunyai daerah kebanjiran yang cukup luas juga mempunyai daerah pasokan air yang tinggi. Dengan diketahuinya areal potensial kebanjiran maka daerah-daerah tersebut harus mengantisipasi dengan membuat tanggul dan atau peningkatan kapasitas saluran drainase, sedangkan untuk mengurangi pasokan air banjir maka daerah-daerah yang rentan pasokan air banjirnya perlu direhabilitasi dengan melakukan penghijauan, rebosiasi, dan penerapan tehnik-tehnik konservasi tanah yang sesuai dengan kondisi setempat.
Abstract (English) :
-
Media Publikasi :
Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan DAS Terpadu untuk Masyarakat Sejahtera
Penulis :
Irfan Budi Pramono, Dr., Drs., M.Sc., Nur Ainun Jariyah, S.Hut., M.Sc.
Ukuran Berkas :
1.1 MB

Sebelum mengunduh file, silahkan mengisi formulir dibawah ini terlebih dahulu untuk keperluan dokumentasi. File tidak bisa diunduh dengan menggunakan Akselerator (IDM, FDM, DAP, dll). File hanya bisa diunduh dengan pengunduh bawaan dari browser. Apabila tidak bisa mengunduh silahkan email ke bpt.kpdas@gmail.com .









« kembali

Arsip Penelitian