Publikasi Penelitian

Pemodelan Neraca Air di DAS Duriangkang, Kota Batam, Kepulauan Riau


Abstrak (Indonesia):
Jumlah air di bumi adalah tetap dan terbatas, hanya sejumlah 42,7 ribu km3 yang menjadi sumber utama penghidupan dan kehidupan makhluk hidup di bumi ini. Dengan jumlah air tawar yang jumlahnya sangat terbatas tersebut maka penggunaannya harus dilakukan secara bijak. Di pulau Batam Kepulauan Riau, ketersediaan air kawasan saat ini mulai menjadi masalah dan diperkirakan 3 tahun yang akan datang akan menglami defisit air karena ketersediaan tidak seimbang dengan kebutuhan airnya. Seiring dengan pertambahan penduduk yang cepat menyebabkan kebutuhan air di pulau Batam menjadi meningkat pula. Sumber air untuk memenuhi kebutuhan air di pulau Batam diperoleh dari beberapa dam buatan yang membendung beberapa sungai yang ada di pulau Batam. Salah satu sungai yang dibendung adalah sungai Duriangkang. Namun demikian sungai Duriangkang ini belum mempunyai pencatatan data secara kontinyu sehingga diperlukan pemodelan neraca air untuk menganalisis ketersediaan air di DAS Duriangkang Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui neraca air dan ketersediaan air DAS Duriangkang. Metode yang digunakan adalah analisis neraca air yang dikembangkan oleh Thornthwaite Mather. Metode ini mendasarkan pada data masukan berupa curah hujan bulanan dan temperature bulanan. Luaran dari metode ini adalah berupa limpasan bulanan. Kemudian proses yang terjadi di dalam DAS didekati dengan tingkat evapotranspirasi dan kemampuan tanah menahan air. Hasil perhitungan neraca air di DAS Duriangkang dengan menggunakan data hujan bulanan dan temperatur bulanan mulai tahun 2001 sampai dengan 2011 menunjukkan bahwa fluktuasi limpasan bulanan di DAS Duriangkang berkisar antara 361,56 mm sampai dengan 1.353,91 mm. Fluktuasi hasil air tahunan di DAS Duriangkang cukup besar yang disebabkan karena penggunaan lahan yang ada di DAS Duriangkang yang mampu menyimpan air hujan melalui proses infiltrasi. Rata-rata fluktuasi hasil air selama 11 tahun (2001 – 2011) terakhir berkisar dari 30,13 sampai dengan 112,83 mm. Untuk mengatasi permasalahan fluktuasi hasil air yang cukup besar tersebut maka pembuatan bendung merupakan suatu keharusan sehingga air sungai tidak langsung terbuang ke laut tetapi dapat tertampung terlebih dahulu pada dam sehngga ketersediaan air kawasan tetap terjaga.
Abstract (English) :
-
Media Publikasi :
Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan DAS Terpadu untuk Masyarakat Sejahtera
Penulis :
Irfan Budi Pramono, Dr., Drs., M.Sc., Rahardyan Nugroho Adi, Drs., M.Sc.
Ukuran Berkas :
756.3 KB

Sebelum mengunduh file, silahkan mengisi formulir dibawah ini terlebih dahulu untuk keperluan dokumentasi. File tidak bisa diunduh dengan menggunakan Akselerator (IDM, FDM, DAP, dll). File hanya bisa diunduh dengan pengunduh bawaan dari browser. Apabila tidak bisa mengunduh silahkan email ke bpt.kpdas@gmail.com .









« kembali

Arsip Penelitian