Publikasi Penelitian

Komparasi Nilai Ekonomi Air Irigasi dari Daerah Aliran Sungai Berhutan dan Tidak Berhutan


Abstrak (Indonesia):

Kawasan hutan di Indonesia banyak yang dikonversi menjadi penggunaan lain. Hal ini berdampak pada kondisi hidrologi dan nilai ekonomi air yang dihasilkannya. Penelitian ini menerapkan unit analisis Sub DAS dengan metode with and without penutupan hutan, Sub DAS Banjaran (berhutan) dan Sub DAS Cangkok (tidak berhutan). Desk analysis dilakukan untuk mengetahui penggunaan lahan, dilakukan pengumpulan data curah hujan, pengukuran debit sesaat untuk mengetahui debit kedua sungai pada saat musim kemarau, survey terhadap 15 orang petani pengguna air irigasi dari Sub DAS Banjaran dan 15 orang petani pengguna air irigasi dari Sub DAS Cangkok. Petani diwawancarai tentang faktor produksi dan produksi tanaman padi untuk mengetahui nilai ekonomi air dari kedua Sub DAS tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa: 1). Curah hujan di Baturraden cukup tinggi (4.302 mm) tetapi untuk bulan Mei, Juli, Agustus dan September mengalami defisit untuk tanaman padi, 2). Sub DAS yang berhutan di Baturraden lebih mampu mengatur tata air dari pada sub DAS yang tidak berhutan, baik kualitas, kuantitas maupun kontinuitasnya, 3). Nilai ekonomi air untuk irigasi dari sub DAS yang berhutan sebesar Rp. Rp. 1.270,-/m3 sedangkan nilai ekonomi air dari sub DAS yang tidak berhutan sebesar Rp. 373,5,-/m3. Keberadaan hutan di dalam sub DAS sangat penting terhadap ekosistem DAS dan memiliki kualitas, kuantitas, dan nilai ekonomi hasil air yang lebih tinggi dari DAS yang tidak berhutan sehingga harus dilestarikan dengan mengikutsertakan masyarakat pengguna air dari Sub DAS berhutan tersebut.

Keywords: DAS berhutan, DAS tidak berhutan, nilai ekonomi air

Abstract (English) :

Many forest areas in Indonesia are converted to other uses. This will impact on the hydrological conditions and the economic value of the water yield. This research applied unit analysis of Sub watersheds, with and without forest cover, Sub DAS Banjaran (forested) and Sub CAS Cangkok (not forested). Desk analysis was conducted to know land use, collecting rainfall data, instantaneous debit measurement to know the discharge of both rivers during the dry season, survey of 15 farmers using irrigation water from Sub watershed of Banjaran (forested sub watershed) and 15 peasants who use irrigation water from Cangkok Sub watershed (non forested sub watershed). Farmers were interviewed about the factors of production and production of rice crops to determine the economic value of water from the two sub watersheds. The results of the study show that: 1). rainfall in Baturraden is quite high (4,302 mm) but for May, July, August and September deficits for rice crops, 2). The forested sub-watershed in Baturraden is better able to regulate the water system than the non-forested sub-watershed, either quality, quantity or continuity, 3). The economic value of water for irrigation from the forested sub-watershed is Rp. 1,270,-/m3 whereas from non-forested sub-watersheds Rp. 373.5,-/m3. Baturraden forest is very important to the watershed ecosystem. Forested watershed was a higher quality, quantity. and economic value of water than non-forested ones so it must be conserved by involving the water user communities.

Keywords: forested watershed, non forested watershed, water economic value

Media Publikasi :
JURNAL ILMU LINGKUNGAN Volume 17 Issue 1(2019) : 23-31
Penulis :
Purwanto, Ir., M.Si.
Ukuran Berkas :
911.4 KB

Sebelum mengunduh file, silahkan mengisi formulir dibawah ini terlebih dahulu untuk keperluan dokumentasi. File tidak bisa diunduh dengan menggunakan Akselerator (IDM, FDM, DAP, dll). File hanya bisa diunduh dengan pengunduh bawaan dari browser. Apabila tidak bisa mengunduh silahkan email ke bpt.kpdas@gmail.com .









« kembali

Arsip Penelitian